"Aktivis Vs Mahasiswa Akademis"
oleh : Marlina Latif
Isu mahasiswa akademis dan mahasiswa organisasi tidak lepas dari dunia kampus. Berbagai perdebatan dalam mempertahankan argumen masing-masing senantiasa mewarnai kampung almamater.
Mahasiswa akademis dicap sebagai mahasiswa yang kuper alias kurang pergaulan, karena mereka menghindari kegiatan-kegiatan sosialisasi, rapat, dan sebagainya, yang menyempitkan ruang koneksi mereka. Tak heran jika mahasiswa akademis dijuluki mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang), mereka tidak ingin dibuat pusing dengan kegiatan rapat, sosialisasi, dan sebagainya. Mereka lebih memilih bertemu dan melalui hari bersama sahabat sejati mereka “Buku”, mengerjakan tugas-tugas kuliah, dan latihan menghadapi ujian. Setiap hari bergelut dengan buku membuat mereka semakin cinta dengannya, tapi nilai IPK mereka diacungi jempol. Itulah mahasiswa akademis.
Berbeda dengan mahasiswa organisasi atau aktivis yang super sibuk. Mereka lebih memilih berkarir dalam kampus dengan menjadi ketua, sekretaris, atau bendahara dalam sebuah Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Bagi yang kontra dengan aktivis mereka akan mengatakan “Aktivis itu kepo dan sok eksis”.
“Tapi apakah mereka memang sok eksis ataukah mereka benar-benar eksis?” ya, bisa saja pertanyaan ini menjadi tanggapan dari pro aktivis. Mengapa? Karena mahasiswa organisasi (aktivis) senantiasa bersosialisasi sehingga ruang koneksi mereka luas, mereka selalu mengurusi berbagai kegiatan sehingga bukan hal yang sulit untuk mereka menjadi terkenal.
Lantas siapakah yang unggul, aktivis atau mahasiswa akademis?
Ketika seorang mahasiswa dihadapkan pada pilihan, organisasi atau akdemik? itu akan menjadi pilihan yang berat bagi mereka, karena bagi mahasiswa mereka ingin menjadi ideal, dalam artian sukses organisasi dan akademik, sebab mereka merupakan agent of change. Mereka ingin membuang dan menghapus segala pikiran buruk orang lain tentang mahasiswa.
Tak jarang seorang dosen berkata “Jangan terlalu membanggakan seniormu, jika ada yang sosialisasi lihat apakah kuliah mereka juga beres!” Aktivis dicap sebagai mahasiswa yang tidak bermasa depan dan malas belajar meski mereka tahu bahwa tugas utama mahasiswa adalah belajar. Apakah mereka salah berorganisasi? Mereka hanya kurang manajemen waktu. Lalu salahkah mahasiswa akademis yang memiliki IPK tinggi namun malu di hadapan publik? Mereka hanya kurang rasa percaya diri yang menyebabkan mereka dikata tak memiliki peluang kerja.
Ini saatnya mahasiswa menunjukka perubahan. Ayo mahasiswa organisasi tunjukkan pada dunia bahwa kalian mampu memiliki IPK minimal 3,25 meski kalian aktif berorganisasi! Ayo mahasiswa akademis tunjukkan bahwa IPK tinggi bukan berarti kuper!
Mari menjadi mahasiswa ideal! Mahasiswa yang sukses organisasi dan akademik. Mahasiswa yang mampu berkata dan merealisasikan dalam bentuk tindakan nyata bahwa “Hanya memiliki IPK tinggi tidak cukup, tapi sukses organisasi dengan IPK NaSaKom (Nasib IPK Satu Koma) merupakan hal yang konyol.
Hidup mahasiswa.
Diposkan oleh Ukm penerbitan & siaran kampus politeknik pertanian negeri pangkep
Tidak ada komentar:
Posting Komentar