Jumat, 21 Maret 2014

Puisi "SETIAKU BERSAMA MALAM"

Setiaku Bersama Malam
Oleh : CRC SoeChe ( +Chairul RedCard )

Semua makhluk punya malam yang berbeda
Aku….
Malam tempat dimana ku dapat mengorek isi hati
Dia memang bisu & sepi menghanyutkan jiwa dalam lamunan
Namun malam tak pernah ingkar janji
Malam ku ucapkan selamat datang
Ku ingin berbagi cerita padamu
Tentang seruak luka & kekotoran hidupku
Ijinkan ku menjabarkannya disepanjang gelapmu
Membeberkannya dalam bait-bait realita kotor
Bercumbuhlah kita dalam hayalan
Dalam kusutan benang cinta yang telah kusut
Inilah malamku, ukiran suara hati direntetan kesunyian & kegelapan
Berawal dari petang hingga direnggut oleh fajar
Inilah setiaku bersama malam yang tak berujung sampai disini
Terimah kasih malam. . . .

Teras Pena "Aktivis Vs Mahasiswa Akademis"


"Aktivis Vs Mahasiswa Akademis"

oleh : Marlina Latif

Isu mahasiswa akademis dan mahasiswa organisasi tidak lepas dari dunia kampus. Berbagai perdebatan dalam mempertahankan argumen masing-masing senantiasa mewarnai kampung almamater.
Mahasiswa akademis dicap sebagai mahasiswa yang kuper alias kurang pergaulan, karena mereka menghindari kegiatan-kegiatan sosialisasi, rapat, dan sebagainya, yang menyempitkan ruang koneksi mereka. Tak heran jika mahasiswa akademis dijuluki mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang), mereka tidak ingin dibuat pusing dengan kegiatan rapat, sosialisasi, dan sebagainya. Mereka lebih memilih bertemu dan melalui hari bersama sahabat sejati mereka “Buku”, mengerjakan tugas-tugas kuliah, dan latihan menghadapi ujian. Setiap hari bergelut dengan buku membuat mereka semakin cinta dengannya, tapi nilai IPK mereka diacungi jempol. Itulah mahasiswa akademis.
Berbeda dengan mahasiswa organisasi atau aktivis yang super sibuk. Mereka lebih memilih berkarir dalam kampus dengan menjadi ketua, sekretaris, atau bendahara dalam sebuah Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Bagi yang kontra dengan aktivis mereka akan mengatakan “Aktivis itu kepo dan sok eksis”.
“Tapi apakah mereka memang sok eksis ataukah mereka benar-benar eksis?” ya, bisa saja pertanyaan ini menjadi tanggapan dari pro aktivis. Mengapa? Karena mahasiswa organisasi (aktivis) senantiasa bersosialisasi sehingga ruang koneksi mereka luas, mereka selalu mengurusi berbagai kegiatan sehingga bukan hal yang sulit untuk mereka menjadi terkenal.
Lantas siapakah yang unggul, aktivis atau mahasiswa akademis?
Ketika seorang mahasiswa dihadapkan pada pilihan, organisasi atau akdemik? itu akan menjadi pilihan yang berat bagi mereka, karena bagi mahasiswa mereka ingin menjadi ideal, dalam artian sukses organisasi dan akademik, sebab mereka merupakan agent of change. Mereka ingin membuang dan menghapus segala pikiran buruk orang lain tentang mahasiswa.
Tak jarang seorang dosen berkata “Jangan terlalu membanggakan seniormu, jika ada yang sosialisasi lihat apakah kuliah mereka juga beres!” Aktivis dicap sebagai mahasiswa yang tidak bermasa depan dan malas belajar meski mereka tahu bahwa tugas utama mahasiswa adalah belajar. Apakah mereka salah berorganisasi? Mereka hanya kurang manajemen waktu. Lalu salahkah mahasiswa akademis yang memiliki IPK tinggi namun malu di hadapan publik? Mereka hanya kurang rasa percaya diri yang menyebabkan mereka dikata tak memiliki peluang kerja.
Ini saatnya mahasiswa menunjukka perubahan. Ayo mahasiswa organisasi tunjukkan pada dunia bahwa kalian mampu memiliki IPK minimal 3,25 meski kalian aktif berorganisasi! Ayo mahasiswa akademis tunjukkan bahwa IPK tinggi bukan berarti kuper!
Mari menjadi mahasiswa ideal! Mahasiswa yang sukses organisasi dan akademik. Mahasiswa yang mampu berkata dan merealisasikan dalam bentuk tindakan nyata bahwa “Hanya memiliki IPK tinggi tidak cukup, tapi sukses organisasi dengan IPK NaSaKom (Nasib IPK Satu Koma) merupakan hal yang konyol.
Hidup mahasiswa.

Diposkan oleh Ukm penerbitan & siaran kampus politeknik pertanian negeri pangkep

Senin, 10 Maret 2014

Urgensi Karakter untuk Kepribadian Mahasiswa

Urgensi Karakter untuk  Kepribadian Mahasiswa
Oleh : Rusniati
Generasi muda seharusnya menjadi pagar yang tangguh dari kerasnya ancaman modernisasi yang seringkali diposisikan negatif dari ketidaksadaran mereka, yang bahkan perlahan-lahan meruntuhkan kokohnya bangunan karakter terdahulu yang diwariskan kepada mereka. Generasi muda seakan tak merasa bangga dengan karakter yang telah disalurkan para pendiri bangsa. Generasi penerus tampak kehilangan keteladanan, mereka seakan malu mengadopsi jiwa-jiwa kepahlawanan yang dengan segudang karakter positif yang patut diteladani.
            Fase kaum muda begitu fenomenal di Negeri tercinta ini, amanah bertengger dipundak kawan-kawan , sebuah beban berat yang akan menjadi lebih berat jika kawan-kawan tak memulai gerakan saat ini, esok, dan seterusnya. Mulailah tegakkan sayap-sayap kedamaian dunia  terkhusus untuk negeri tercinta ini. Akal generasi muda seharusnya dapat mengoptimalkan kesenangan dari zaman modernisasi ini. Pengaruh modernisasi sudah sangat mewabah didalam akal dan kepribadian generasi muda saat ini. Sebagian dari generasi muda khususnya mahasiswa tampaknya berfikir bahwa mengikuti jiwa-jiwa kepahlawanan teruntuk menjadi manusia berkarakter mungkin sejatinya akan membuat mereka berada dalam posisi tidak berkembang, mereka akan tertinggal ketika mereka tidak dengan gaya hidup modern. Kesenangan hidup modern mahasiswa kini berujung pada kelunturan karakter dan etika. Moralitas hampir hilang dari kepribadian generasi muda. Mahasiswa hampir tak menyadari bahwa kita inilah aset yang urgen untuk negara kita.
            Mahasiswa dengan kehidupan-kehidupan modern saat ini salah memaknai fanatiknya modernisasi terhadap kepribadian mereka. Cara pandang dan berfikir generasi penerus negara tidak sesuai lagi dengan nilai luhur budaya bangsa. Secara realita maupun logika mengembalikan jiwa-jiwa kepahlawanan, nilai budaya luhur serta karakter-karakter dalam kepribadian diri generasi muda tampak sulit kecuali adanya peran aktif komponen dari diri sendiri maupun orang sekitar. Gaya hidup modern sudah begitu mengakar dalam kepribadian generasi muda, perkembangan zaman sangat kuat menghantam pendirian generasi penerus. Aliran arus negatif modernisasi kini perlahan-lahan menghanyutkan warisan karakter  generasi muda.
            Pengenalan kembali budaya negara kita pun sepertinya tak dapat memberikan efek kuat bagi generasi muda yang telah melekat dengan gaya modern. Apakah tanpa karakter generasi muda dapat menjadi harapan bangsa ? masa depan cerah mereka akan buram tanpa karakter budaya luhur dalam diri generasi penerus.  Apa yang akan membawa generasi muda menuju puncak kemajuan Indonesia ? hanya karakter falsafah pancasila yang generasi penerus perlu upayakan seoptimal mungkin. Minimalisir gaya modern kita kawan dengan menananamkan karakter budaya luhur hingga menumbuhkan kualitas perilaku kolektif dalam kepribadian generasi muda. Mahasiswa harus berkarakter sesuai falsafah pancasila, yang religius,jujur,toleransi,disiplin,kerja keras,kreatif,mandiri,demokratis,rasa ingin tahu,semangat kebangsaan,cinta tanah air, bersahabat/komunikatif,cinta damai,gemar membaca,peduli lingkungan,peduli sosial,tanggung jawab,dan lain-lain. Jadilah generasi muda yang menjadi alasan ukiran senyum pahlawan terdahulu dan pendiri bangsa. Mahasiwa yang menjadi kebanggaan kampus dan negara tercinta ini.     
 


Cerpen "Hitam Dalam Gelap"




HITAM DALAM GELAP
Oleh : Marwati Arif
Entah apa yang di pikirkan Tian malam itu, ia duduk termenung sendiri.  tiba-tiba HPnya berdering dan di layar tertulis nama salah seorang temannya yang bernama Wiwin. Tian menjawab panggilan  telpon itu dan ternyata yang berbicara bukanlah Wiwin melainkan Ricky (teman Wiwin). Pembicaraan pun berlangsung dan mereka saling berkenalan. Mungkin Tian merasa nyaman dan nyambung saat bicara dengan Ricky, sehingga tanpa sadar ia curhat kepada teman barunya itu tentang masalah yang di hadapinya dan Ricky pun mendengarkannya.
Keesokan harinya Ricky menelpon lagi, dan sepertinya mereka semakin akrab setelah sering berkomunikasi selama seminggu terakhir. Tian merasa sangat senang mendapatkan teman seperti Ricky meskipun  sebenarnya hanya sebatas teman yang semu karena mereka belum pernah bertemu.
Dan sampai beberapa hari, Ricky tak pernah menghubungi Tian lagi dan Ricky juga sulit untuk di hubungi sehingga komunikasi mereka putus. Tian cukup sedih dan kecewa akan hal tersebut. Tetapi Tian tetap berpikir positif tentang ricky dan menjalani hari-harinya seperti hari sebelum mengenal sosok Ricky yang begitu misterius sekaligus menyenangkan itu meskipun sebenarnya Tian merasa telah menyimpan rasa suka kepada Ricky.
Hingga suatu hari di mana Tian ikut serta dalam kegiatan yang di adakan oleh sebuah sekolah tinggi di kotanya dan ia mewakili sekolahnya. Pada saat berada di gerbang kampus, Di kejauhan Tian melihat seorang pria yang memiliki postur tubuh yang cukup tinggi dan berwajah manis sedang memperhatikannya. Dan dari arah yang berlawanan juga ada seorang wanita yang memanggil pria tersebut “Ricky…”, mendengar nama itu, Tian tanpa berpikir panjang menoleh ke arah wanita dan pria itu. Tian pun mulai teringat sosok Ricky yang telah menghilang itu. “Apa mungkin mereka memiliki nama yang sama?” Tanya Tian dalam hatinya.
Dengan rasa penasaran, Tian berjalan mendekati sosok pria yang memiliki nama “ricky” itu dan memberanikan diri untuk menyapanya dan bertanya. “Hai, nama kamu ricky yah?” (agak gugup). “Ya, aku ricky”. Mendengar suara itu, Tian mulai yakin kalau Ricky yang sedang berdiri di depannya itu adalah teman yang sudah lama menghilang. Lalu Tian mulai mengungkit-ungkit tentang teman lamanya dan ternyata benar. Itu adalah ricky yang selama ini Tian kenal.
Mereka mulai berkomunikasi kembali sejak pertemuan itu yang tidak pernah terduga oleh Tian. Sebenarnya Tian masih menyimpan banyak pertanyaan tentang Ricky, ia belum terlalu jauh mengenal siapa itu Ricky.
Malamnya. Ricky menelpon Tian dan ia meminta maaf karena selama ini ia telah membuat Tian salah paham. Sebenarnya Ricky adalah salah seorang pria yang naksir pada Nina. Nina adalah teman sekelas sekaligus sahabat Tian yang terkenal cantik dan baik hati, jadi tidak heran jika banyak laki-laki yang suka padanya, Nina dan Tian sudah bersahabat sejak lama dan mereka sudah seperti saudara sendiri. Ricky sengaja mendekati Tian untuk mencari tahu tentang Nina. Mengetahui hal itu, Tian sangat sedih dan kecewa. Ternyata orang yang selama ini ia kagumi justru suka kepada sahabatnya sendiri.

Artikel Kusam "AYAM KELAPARAN DI LUMBUNG PADI"




Oleh : CRC SoeChe ( +Chairul RedCard )
Negara ini yang katanya kaya akan sumber daya alamnya, Namun ketika dianalisis lebih dalam ternyata kata “Negara ini kaya akan sumber daya alam” itu ibarat hanya sebuah dongeng karena sebagian besar manusia pribuminya tidak dapat menikmati kekayaan tersebut.
Menurut analogi saya tentang Negara ini adalah sama halnya pribumi yang bersemayam di dalamnya bagaikan ayam yang kelaparan di lumbung padi,. Timbul pertanyaan dalam benak yang hedon ini, mengapa demikian??? Banyak persepsi menyatakan bahwa negri ini belum merdeka yakni masih dibawah penguasaan Negara-negara imprealism. Terbukti dengan maraknya borjuis-borjuis yang berkeliarann diluar sana yang terus menindas Dan memeras manusia pribumi. Sampai kapan???
Sungguh malang nasib kebanyakan orang yang secara tak langsung telah menjadi budak di negri sendiri, begitupun dengan para hewan-hewan mulai punah/musnah dari permukaan bumi ini lantaran semakin sempitnya lahan Dan tempat tinggal mereka untuk berpijak dan bertahan hidup lantaran eksploitasi dsb.
Injdustri-industri makin berkembang searah dengan pencemaran lingkungan yang makin meningkat pula, mereka yang menanamkan modal hanya asyik berpangkuh kaki Dan terus meraut keuntungan di negri ini lalu setelah kontrak mereka selesai maka mereka akan pergi jauh dengan wajah yang tak berdosa.
Menoleh ke belakang dan membandingkan masa sekarang.,,,
Ketika kita menelaah sejarah, yaitu nenek moyang terdahulu mempertaruhkan harta bahkan nyawa demi merebut Dan mempertahankan tanah air ini. Namun sayangnya generasi saat ini hanya dapat menawarkan lahan leluhur mereka pada pemilik modal tanpa mempertimbangkan kelangsungan hidup anak cucu mereka nantinya.
Harus diakui juga bahwa memang banyak intelektual yang tercetak di nusantara ini, tetapi mengapa bangsa ini tak maju-maju???
Pandangan hedon saya mengatakan : “hal tersebut dikarenakan  lunturnya jiwa social/kolektif dalam benak manusia pribumi dewasa ini, lantaran jiwa individualism yang menjadi hegemoni Dan telah mendarah daging dalam diri mereka serta adanya system kompetisi yang diterapkan yang menyelimuti kepemilikan pribadi yang sangat tinggi dan juga hukum di Negara ini yang implementasinya tak sesuai kenyataan”…
Kenapa hal ini makin berkembang??? Karna minimnya kesadaran rakyat akan hal tersebut, disamping itu rakyat juga sibuk bekerja demi bertahan hidup.
Sampai kapan hal ini terjadi??? Sampai banyak yang sadar akan kebubrukan system saat ini dan melakukan perlawanan. Terus ditindas atau bankit melawan!!!!
Salam perjuangan & hidup rakyat…………