Kamis, 27 April 2017

Ironinya Bhineka Tunggal Ika



Ironinya Bhineka Tunggal IkA
Penulis: Agus Risman

Akhir-akhir ini desas-desus tentang penolakan organisasi gerakan islam yang lebih dikenal dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sedang ramai dibicarakan dan menjadi topik hangat yang paling pas untuk dibincangkan bersama dengan secangkir kopi hitam disore senja ditemani dengan warna jingganya yang menggoda (mari berdiskusi sambil menikmati seduhan kopi hangat). Menjadi bahan diskusi yang perlu untuk dikaji secara bersama untuk mencari kesamaan dalam perbedaan, perbedaan memang bukanlah suatu hal yang perlu untuk ditolak namun merupakan cara terbaik untuk disandingkan, bukankah kita memang diciptakan dalam perbedaan….? bersuku-suku, berbangsa-bangsa tiada lain dengan tujuan untuk saling mengenal, saling melengkapi agar terjadi harmonisasi hubungan diantara kita .
Namun dewasa ini perbedaan  tidaklah seperti apa yang menjadi tujuan sebenarnya, pada hari ini realita yang terjadi perbedaan adalah sumber masalah perpecahan antar sesama apalagi jika memang sudah berbeda. Dalam menanggapi isu-isu yang berkembang perlu pemahaman yang mendalam baik mengenai konsep organisasi yang pola orientasinya gerakan islam itu sendiri ataupun penolakan dengan ideologi yang coba untuk diterapkan di persada bumi ibu pertiwi ini. Bersama membangun negeri menuju masyarakat yang madani adalah tujuan kita bersama demi tercapainya kesejahteraan umum, kecerdasan generasi dalam kehidupan berbangsa serta ikut melaksanakan ketertiban dunia itulah makna yang tersirat dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke-empat dan sudah sewajarnya menjadi tanggung jawab bersama untuk mewujudkannya, hal itu tidak akan mungkin tercapai tanpa adanya simpul-simpul persatuan diantara kita, menjadi bahan renungan untuk bersama kita intropeksi diri, benar salah itulah penafsiran yang terjadi saat ini yang berdasar kepada pemahaman kita masing-masing.
Mengklaim kebenaran berada dipihak masing-masing memang sesuatu yang tak mustahil namun berlapang dada untuk tetap menerima faham seseorang itulah yang tak mudah untuk diterapkan bahkan terkadang mengerucut dan berujung pada perpecahan bahkan konflik berdarah dan semua pihak saya rasa tak satupun mengharapkan hal itu sampai terjadi cukuplah yang telah berlalu menjadi bahan pembelajaran untuk kita semua, hikmah dibaliknya  semoga terpetik oleh sang pengamat.
Akhir kata semoga kita semua tetap dalam lindungan-Nya dan tentunya baik-baik saja dalam segala hal yang membedakan kita, jalan kita boleh berbeda namun visi kita besar harapan semuanya sama, ibarat air dan sirup dua hal yang berbeda namun memiliki satu visi yang sama yaitu memberi kenikmatan bagi penikmatnya. Mengapa tidak hal ini coba kita terapkan dalam hidup yang pada dasarnya satu naungan bangsa yang penuh perbedaan dengan segala kelebihan yang dimilikinya.

salam sejahtera untuk kita semua terlebih kepada pembaca yang budiman

Independensi Mahasiswa

Media mahasiswa
Edisi, 09 April 2017
LPM Perska
oleh: Deng Lewa

Merawat bangsa lewat ide, gagasan dan kreatifitas. Seberkas sinar di ujung lorong gelap menjad asa
ditengah bangsa yang rapuh nan kelam ini. Banyaknya celoteh dari masa kemasa hanyalah penambah beban untuk semua penikmat dan pecinta wacana. Seiring nuansa dari rasa itu membuat citra berfikir akan rapuh oleh pandangan buruk sosial. Makanya dasar pemikiran yang menghalangi diri untuk berkreasi dan menerima kebijakan ketika menganggap semua sistem adalah kerangka yang diatur untuk menguntungkan serpihan-serpihan dari banyaknya pihak dilingkungan itu. Pembahasan kita adalah birokrasi kampus dan independensi mahasiswa. Ini terkait masalah berkelitnya birokrasi memaksa para mahasiswa taklut pada situasi. Biokrasi menempatkan mahasiswa pada posisi serba salah. Dengan segala adikuasanya, birokrasi kukuh menjatuhkan mental mahasiswa sampai ketitik dasar. Nah, itu sebabnya kenapa lebih dari separuh mahasiswa masih menganggap bahwa birokrasi penyebab inefisiensi. Segala bentuk penekanan dilakukan yang sifatnya menarik simpati dari mahasiswa sehingga legowo dengan penekanan itu. Penekanan yang sering dilakukan ketika tingkat nyalimahasiswa dijadikan peluang untuk menjatuhkan mental dengan tatapan mata. Adikuasa mutlak baginya.

Nah, bagimana mewujudkan bapak kehormatan Joko Widodo yang mengonsep revolusi mental? Lagi-lagiini birokrasi terlihat keseweng-wenangnya dalam mengatur sistem yang nomaden. Mahasiswa memposisikan birokrasi sebagai orang yang berwenang tapi bukan sewenang-wenang. Anggapan itu muncul sebagai kristalisasi kekecewaan dan kekesalan mahasiswa saat berurusan dengan birokrasi kampus. Kejenuhan yang mencapai titik klimaksnya membuat mahasiswa menjadi jenuh dan mudah menyerah. Sekarang kita mencermati rasa takut mahasiswa yang berlebihan dan dijadikan adat/budaya terciut saat ada sedikit penekanan. Keadaan ini terjadi karena mahasiswa tidak menyadari bahwa mereka kaum independen. Independen berarti bebas, bisa dikatakan bahwa independensi adalah sikap dimana mahasiswa terlepas dari cengkraman birokrat. Mestinya dapat bernalar dan berkreasi tanpa ada tekanan dan kebijakan yang memihak. Birokrasi adalah orang yang harus menjadi pendorong semangat mahasiswa dalam menggariskan semangat juang untuk negara dan bangsa diera sekarang agar dapat melepas sayapnya.

Independensi bukan sekedar bebas berekspresi fisik, tetpi pada kebesan tataran pemikiran yang patut
dinikmati. Kebebasan memelihara pikiran dengan membiasakannya seliar mungkin melanglang buana mencari gagasan. Hal itu perlu disadari oleh semua orang termasuk birokrasi. Karena tanpa pengakuan independensi maka perubahan sulit diwujudkan Satu hal yang tak lepas juga untuk disadari dan dicermati adalah jika kontrol terhadap kampus rendah maka korupsi semakin subur,bangunan pendidikan rapuh dan nepostisme merajalela. Lintas Informasi & Edukasi Kampus Independensi Mahasiswa

Media mahasiswa
Edisi, 09 April 2017
LPM Perska

Kamis, 05 Mei 2016

LIPUTAN : IMPS menggelar Turnamen Futsal (Soppeng Cup)

IMPS menggelar Turnamen Futsal (Soppeng Cup)
Mandalle-PERSKA. Ikatan Mahasiswa Pelajar Soppeng atau lebih dikenal dengan IMPS merupakan salah satu organisasi daerah berasal dari Soppeng, IMPS belum lama ini telah sukses menyelenggarakan suatu event yaitu turnamen futsal Soppeng Cup dan merupakan salah satu program kerja IMPS periode 2015-2016 yang di ketuai oleh Muh. Arifai. Suksesnya program kerja Soppeng Cup tidak terlepas dari kerja keras Penanggungjawab kegiatan dan antusias para peserta turnamen yang di sokong oleh adanya dana khas dari IMPS itu sendiri.
Soppeng Cup digelar selama 17 hari mulai dari Tanggal 19 April – 03 Mei 2016 bertempat di lapangan Futsal Politeknik Pertanian Negeri Pangkep dan dimeriahkan oleh keikut sertaan organisasi-organisasi daerah yang ada disekitaran kampus Politeknik Pertanian Negeri Pangkep. Dengan tema “Mempererat tali silatuhrahim antar sesama organisasi daerah melalui bidang olah raga secara sportifitas”.
Walaupun dalam proses berlangsungnya kegiatan tersebut terdapat insiden-insiden yang tidak diharapkan dan mengakibatkan turnamen dihentikan sementara waktu. Namun ketua panitia (Agus Suharto) Soppeng Cup enggan berkomentar tentang insiden tersebut, “bukannya saya tidak ingin berkomentar atas insiden yang terjadi sehingga kegiatan dibubarkan untuk sementara waktu, namun saya hanya tidak ingin terjadi kesalahpahaman antar organda lain dan mungkin lebih baik bila semua urusan sudah beres barulah pertandingan soppeng cup kami lanjutkan” ujarnya.
Hingga akhirnya sampai di penghujung turnamen yakni final yang mempertemukan team KMP3 (Pangkep) dengan team KKMB (Bone) dengan skor 4:1 yang dimenangkan oleh team KMP3 (Pangkep), serta team KKMB (Bone) juara II dan team KKBM Sul-Bar Juara III. Sukssnya turnamen Soppeng Cup dan tekat juang IMPS untuk tercapainya tema kegiatan patut diapresiasi.
***reforter Rizkiyanti Adi Hastirah/Tinta Merdeka/2016

Jumat, 21 Maret 2014

Puisi "SETIAKU BERSAMA MALAM"

Setiaku Bersama Malam
Oleh : CRC SoeChe ( +Chairul RedCard )

Semua makhluk punya malam yang berbeda
Aku….
Malam tempat dimana ku dapat mengorek isi hati
Dia memang bisu & sepi menghanyutkan jiwa dalam lamunan
Namun malam tak pernah ingkar janji
Malam ku ucapkan selamat datang
Ku ingin berbagi cerita padamu
Tentang seruak luka & kekotoran hidupku
Ijinkan ku menjabarkannya disepanjang gelapmu
Membeberkannya dalam bait-bait realita kotor
Bercumbuhlah kita dalam hayalan
Dalam kusutan benang cinta yang telah kusut
Inilah malamku, ukiran suara hati direntetan kesunyian & kegelapan
Berawal dari petang hingga direnggut oleh fajar
Inilah setiaku bersama malam yang tak berujung sampai disini
Terimah kasih malam. . . .

Teras Pena "Aktivis Vs Mahasiswa Akademis"


"Aktivis Vs Mahasiswa Akademis"

oleh : Marlina Latif

Isu mahasiswa akademis dan mahasiswa organisasi tidak lepas dari dunia kampus. Berbagai perdebatan dalam mempertahankan argumen masing-masing senantiasa mewarnai kampung almamater.
Mahasiswa akademis dicap sebagai mahasiswa yang kuper alias kurang pergaulan, karena mereka menghindari kegiatan-kegiatan sosialisasi, rapat, dan sebagainya, yang menyempitkan ruang koneksi mereka. Tak heran jika mahasiswa akademis dijuluki mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang), mereka tidak ingin dibuat pusing dengan kegiatan rapat, sosialisasi, dan sebagainya. Mereka lebih memilih bertemu dan melalui hari bersama sahabat sejati mereka “Buku”, mengerjakan tugas-tugas kuliah, dan latihan menghadapi ujian. Setiap hari bergelut dengan buku membuat mereka semakin cinta dengannya, tapi nilai IPK mereka diacungi jempol. Itulah mahasiswa akademis.
Berbeda dengan mahasiswa organisasi atau aktivis yang super sibuk. Mereka lebih memilih berkarir dalam kampus dengan menjadi ketua, sekretaris, atau bendahara dalam sebuah Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Bagi yang kontra dengan aktivis mereka akan mengatakan “Aktivis itu kepo dan sok eksis”.
“Tapi apakah mereka memang sok eksis ataukah mereka benar-benar eksis?” ya, bisa saja pertanyaan ini menjadi tanggapan dari pro aktivis. Mengapa? Karena mahasiswa organisasi (aktivis) senantiasa bersosialisasi sehingga ruang koneksi mereka luas, mereka selalu mengurusi berbagai kegiatan sehingga bukan hal yang sulit untuk mereka menjadi terkenal.
Lantas siapakah yang unggul, aktivis atau mahasiswa akademis?
Ketika seorang mahasiswa dihadapkan pada pilihan, organisasi atau akdemik? itu akan menjadi pilihan yang berat bagi mereka, karena bagi mahasiswa mereka ingin menjadi ideal, dalam artian sukses organisasi dan akademik, sebab mereka merupakan agent of change. Mereka ingin membuang dan menghapus segala pikiran buruk orang lain tentang mahasiswa.
Tak jarang seorang dosen berkata “Jangan terlalu membanggakan seniormu, jika ada yang sosialisasi lihat apakah kuliah mereka juga beres!” Aktivis dicap sebagai mahasiswa yang tidak bermasa depan dan malas belajar meski mereka tahu bahwa tugas utama mahasiswa adalah belajar. Apakah mereka salah berorganisasi? Mereka hanya kurang manajemen waktu. Lalu salahkah mahasiswa akademis yang memiliki IPK tinggi namun malu di hadapan publik? Mereka hanya kurang rasa percaya diri yang menyebabkan mereka dikata tak memiliki peluang kerja.
Ini saatnya mahasiswa menunjukka perubahan. Ayo mahasiswa organisasi tunjukkan pada dunia bahwa kalian mampu memiliki IPK minimal 3,25 meski kalian aktif berorganisasi! Ayo mahasiswa akademis tunjukkan bahwa IPK tinggi bukan berarti kuper!
Mari menjadi mahasiswa ideal! Mahasiswa yang sukses organisasi dan akademik. Mahasiswa yang mampu berkata dan merealisasikan dalam bentuk tindakan nyata bahwa “Hanya memiliki IPK tinggi tidak cukup, tapi sukses organisasi dengan IPK NaSaKom (Nasib IPK Satu Koma) merupakan hal yang konyol.
Hidup mahasiswa.

Diposkan oleh Ukm penerbitan & siaran kampus politeknik pertanian negeri pangkep

Senin, 10 Maret 2014

Urgensi Karakter untuk Kepribadian Mahasiswa

Urgensi Karakter untuk  Kepribadian Mahasiswa
Oleh : Rusniati
Generasi muda seharusnya menjadi pagar yang tangguh dari kerasnya ancaman modernisasi yang seringkali diposisikan negatif dari ketidaksadaran mereka, yang bahkan perlahan-lahan meruntuhkan kokohnya bangunan karakter terdahulu yang diwariskan kepada mereka. Generasi muda seakan tak merasa bangga dengan karakter yang telah disalurkan para pendiri bangsa. Generasi penerus tampak kehilangan keteladanan, mereka seakan malu mengadopsi jiwa-jiwa kepahlawanan yang dengan segudang karakter positif yang patut diteladani.
            Fase kaum muda begitu fenomenal di Negeri tercinta ini, amanah bertengger dipundak kawan-kawan , sebuah beban berat yang akan menjadi lebih berat jika kawan-kawan tak memulai gerakan saat ini, esok, dan seterusnya. Mulailah tegakkan sayap-sayap kedamaian dunia  terkhusus untuk negeri tercinta ini. Akal generasi muda seharusnya dapat mengoptimalkan kesenangan dari zaman modernisasi ini. Pengaruh modernisasi sudah sangat mewabah didalam akal dan kepribadian generasi muda saat ini. Sebagian dari generasi muda khususnya mahasiswa tampaknya berfikir bahwa mengikuti jiwa-jiwa kepahlawanan teruntuk menjadi manusia berkarakter mungkin sejatinya akan membuat mereka berada dalam posisi tidak berkembang, mereka akan tertinggal ketika mereka tidak dengan gaya hidup modern. Kesenangan hidup modern mahasiswa kini berujung pada kelunturan karakter dan etika. Moralitas hampir hilang dari kepribadian generasi muda. Mahasiswa hampir tak menyadari bahwa kita inilah aset yang urgen untuk negara kita.
            Mahasiswa dengan kehidupan-kehidupan modern saat ini salah memaknai fanatiknya modernisasi terhadap kepribadian mereka. Cara pandang dan berfikir generasi penerus negara tidak sesuai lagi dengan nilai luhur budaya bangsa. Secara realita maupun logika mengembalikan jiwa-jiwa kepahlawanan, nilai budaya luhur serta karakter-karakter dalam kepribadian diri generasi muda tampak sulit kecuali adanya peran aktif komponen dari diri sendiri maupun orang sekitar. Gaya hidup modern sudah begitu mengakar dalam kepribadian generasi muda, perkembangan zaman sangat kuat menghantam pendirian generasi penerus. Aliran arus negatif modernisasi kini perlahan-lahan menghanyutkan warisan karakter  generasi muda.
            Pengenalan kembali budaya negara kita pun sepertinya tak dapat memberikan efek kuat bagi generasi muda yang telah melekat dengan gaya modern. Apakah tanpa karakter generasi muda dapat menjadi harapan bangsa ? masa depan cerah mereka akan buram tanpa karakter budaya luhur dalam diri generasi penerus.  Apa yang akan membawa generasi muda menuju puncak kemajuan Indonesia ? hanya karakter falsafah pancasila yang generasi penerus perlu upayakan seoptimal mungkin. Minimalisir gaya modern kita kawan dengan menananamkan karakter budaya luhur hingga menumbuhkan kualitas perilaku kolektif dalam kepribadian generasi muda. Mahasiswa harus berkarakter sesuai falsafah pancasila, yang religius,jujur,toleransi,disiplin,kerja keras,kreatif,mandiri,demokratis,rasa ingin tahu,semangat kebangsaan,cinta tanah air, bersahabat/komunikatif,cinta damai,gemar membaca,peduli lingkungan,peduli sosial,tanggung jawab,dan lain-lain. Jadilah generasi muda yang menjadi alasan ukiran senyum pahlawan terdahulu dan pendiri bangsa. Mahasiwa yang menjadi kebanggaan kampus dan negara tercinta ini.