Ironinya Bhineka Tunggal IkA
Penulis: Agus Risman
Akhir-akhir ini desas-desus tentang penolakan organisasi
gerakan islam yang lebih dikenal dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sedang
ramai dibicarakan dan menjadi topik hangat yang paling pas untuk dibincangkan
bersama dengan secangkir kopi hitam disore senja ditemani dengan warna
jingganya yang menggoda (mari berdiskusi sambil menikmati seduhan kopi hangat).
Menjadi bahan diskusi yang perlu untuk dikaji secara bersama untuk mencari
kesamaan dalam perbedaan, perbedaan memang bukanlah suatu hal yang perlu untuk
ditolak namun merupakan cara terbaik untuk disandingkan, bukankah kita memang
diciptakan dalam perbedaan….? bersuku-suku, berbangsa-bangsa tiada lain dengan
tujuan untuk saling mengenal, saling melengkapi agar terjadi harmonisasi
hubungan diantara kita .
Namun dewasa ini perbedaan tidaklah seperti apa yang menjadi tujuan
sebenarnya, pada hari ini realita yang terjadi perbedaan adalah sumber masalah
perpecahan antar sesama apalagi jika memang sudah berbeda. Dalam menanggapi
isu-isu yang berkembang perlu pemahaman yang mendalam baik mengenai konsep
organisasi yang pola orientasinya gerakan islam itu sendiri ataupun penolakan
dengan ideologi yang coba untuk diterapkan di persada bumi ibu pertiwi ini.
Bersama membangun negeri menuju masyarakat yang madani adalah tujuan kita
bersama demi tercapainya kesejahteraan umum, kecerdasan generasi dalam
kehidupan berbangsa serta ikut melaksanakan ketertiban dunia itulah makna yang
tersirat dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke-empat dan sudah
sewajarnya menjadi tanggung jawab bersama untuk mewujudkannya, hal itu tidak
akan mungkin tercapai tanpa adanya simpul-simpul persatuan diantara kita,
menjadi bahan renungan untuk bersama kita intropeksi diri, benar salah itulah penafsiran
yang terjadi saat ini yang berdasar kepada pemahaman kita masing-masing.
Mengklaim kebenaran berada dipihak masing-masing
memang sesuatu yang tak mustahil namun berlapang dada untuk tetap menerima
faham seseorang itulah yang tak mudah untuk diterapkan bahkan terkadang
mengerucut dan berujung pada perpecahan bahkan konflik berdarah dan semua pihak
saya rasa tak satupun mengharapkan hal itu sampai terjadi cukuplah yang telah
berlalu menjadi bahan pembelajaran untuk kita semua, hikmah dibaliknya semoga terpetik oleh sang pengamat.
Akhir kata semoga kita semua tetap dalam
lindungan-Nya dan tentunya baik-baik saja dalam segala hal yang membedakan kita,
jalan kita boleh berbeda namun visi kita besar harapan semuanya sama, ibarat
air dan sirup dua hal yang berbeda namun memiliki satu visi yang sama yaitu
memberi kenikmatan bagi penikmatnya. Mengapa tidak hal ini coba kita terapkan
dalam hidup yang pada dasarnya satu naungan bangsa yang penuh perbedaan dengan
segala kelebihan yang dimilikinya.
salam sejahtera untuk kita semua terlebih
kepada pembaca yang budiman